BUDAYA COPAS ALIAS COPY PASTE

♻️ BUDAYA COPAS ALIAS COPY PASTE

Telah menjadi kebiasaan yang mengakar di dunia tulis menulis, yaitu mengambil tulisan sebagian atau seluruhnya dengan cara meng-copy kemudian meletakkannya [paste] di area lain dalam media tulisan. Kalau menengok masa lalu sebelum ada komputer tidak pernah dikenal istilah copas. Setelah masuk masa komputerisasi istilah copas semakin popular. Begitu mudahnya mengambil tulisan dan meletakkannya di area lain.

Ada beberapa pengalaman kawan dulu yang bekerja di dunia konsultan. Mereka sedang mengerjakan proyek perencanaan tata ruang. Berhubung sistematika tulisan sudah baku dari peraturan pemerintah, sehingga isi laporan perencanaan tidak jauh berbeda antara satu kota dengan kota lainnya di Indonesia. Suatu ketika, mereka pun mengambil file kota yang sudah selesai pekerjaan perencanaan tata ruangnya, kemudian copas ke dalam laporan perencanaan kota yang sedang dikerjakan.

Akibat ketidaktelitian, sampai akhirnya dipermalukan di depan forum pembahasan bersama anggota DPR. Mengapa? Akibat copas mereka [konsultan] hanya merubah nama kota saja, sedangan nama kecamatan tidak diubah apalagi nama desa. Anggota DPR tentu sangat hafal wilayah mereka. Direktur konsultan turut malu nggak ketulungan.

Sekarang telah merambah di tengah kita sebuah aplikasi penyampai pesan canggih, whatsapp dan telegram. Semakin mudah lagi budaya copas disalurkan. Ada artikel masuk karena dirasa bermanfaat langsung copy dan paste kirim ke kawan lainnya atau grup yang diikuti. Luar biasa canggih. Ada sisi positif yang dirasakan pengguna. Copas semakin mempermudah dan mempercepat tulisan dibaca dan disebar. Mungkinkah tidak ada sisi negatifnya? Jawabannya tidak mungkin.

Dalam suatu grup, misalnya, ada berita duka dan suka. Berita duka seperti informasi tentang kawan yang terkena musibah; sakit, kecelakaan, meninggal dunia. Berita suka seperti info ada yang melahirkan, atau telah keluar dari opname rumah sakit, dll. Berita-berita itu kemudian ditanggapi dengan ucapan yang sesuai berupa do’a atau kalimat2 penghibur atau kalimat turut gembira. Anggota grup lainnya dengan mudahnya copas kirim… dalam keadaan ia tidak tau apa artinya atau maknanya. Pokoknya kirim sebagai ucapan rasa empati dan perhatian kepada anggota lainnya. Ironisnya, tulisan yang dicopas tadi ternyata keliru, misalnya keliru penggunaan dhomir [kata ganti] atau keliru do’a yang dikirimkan. Akibatnya yang copas beruntun hingga terus ke bawah display gadge juga salah semua. Sadar setelah ada ustadz atau anggota grup yang faham, memberitahukan kesalahan tersebut. Biasanya terjadi dalam tulisan Arabic.

Budaya copas harus terkontrol dengan ilmu. Si pemilik gadge mestinya membekali diri dengan ilmu. Tidak asal copas. Bersikap ilmiah. Setelah mantap tulisan ucapan suka/duka atau doa benar sesuai dalil dan kaidah baru dikirimkan. Perlu sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa karena tidak ada pihak yang memaksa untuk segera mengirimkan hasil copas. Dalam hal mengirimkan ucapan suka/duka atau do’a kalau sudah terlalu banyak tentu akan menyibukkan pembaca yang jumlah sedemikian banyak. Beberapa orang sudah cukup mewakili, toh juga tidak ada hukum yang mewajibkan atas hal tersebut. Lebih baik dikirimkan lewat jalur pribadi yang bersangkutan.

Copas artikel ilmiah juga sering merambah dunia WA dan telegram. 1 orang bisa mengikuti puluhan grup WA dan channel telegram. Namun, sangat disayangkan copas tanpa menyertakan sumbernya. Sikap ilmiah selalu menyandarkan tulisan dari sumber asalnya dari hasil copas. Jika sumber asal tulisan ada kesalahan yang melakukan copas aman dari pertanggung jawaban ilmiah.

Demikianlah tulisan ini dibuat sebagai sebuah renungan, betapa kuatnya akar budaya copas di tengah pengguna gadge. Khawatirnya akan menumbuhkan budaya taqlid buta, sebagaimana perilaku orang-orang jahil masa lalu maupun masa sekarang ini.