Bolehkah Bersikap Tawaqquf ?

Transkrip tulisan dari rekaman sesi tanya jawab dari rangkaian dauroh Al Ustadz Muhammad bin Umar As-sewed hafizhahullah di Ma’had Al Manshuroh Banjarbaru, 19 Muharram 1437/ 1 Nopember 2015.

Pertanyaan :

“Bolehkah bersikap tawaqquf dalam permasalahan fitnah dzulqarnain dengan alasan menghormati kedua belah pihak … yang mentahdzir dan yang ditahdzir?”

Jawaban :
Ikhwanafiddin ‘azzakumullah
Kalau kau memakai manhaj tawaqquf spt itu berarti kau akan bisa tawaqquf pula kepada semua hizbiyyun. Apa jadinya kira-kira? …. Kenapa harus dzulqarna’in saja? berarti, kepada semuanya. Pada hizbiyyin termasuk pada khawarij juga, mereka ditahdzir, kita mentahdzir. Jangan kita di tengah saja nasehati dulu mereka.

Ikhwanafiddin ‘azzakumullah
Kalau kita bicara ttg nasehat kita sudah melewati sekian pasal nasehat, bukan sekali bukan dua kali, bukan tiga kali, berkali-kali dan bukan hanya kita. Masyayikh kibaar yang menasehati…. Sehingga bukan urusan antum, bukan urusan kita-kita. Perkaranya sudah sampai ke “mahkamah agung”, maa sya Allah. Artinya yang tertinggi … bukan kelasnya kita lagi sudah. Sudah masyayikh yang membicarakan dan jangan dikira masyayikh baru mendengar satu pihak. Mereka datang kepada masyayikh berkali-kali, kita juga datang kepada masyayikh berkali-kali dan datang bersama juga berkali2. Kira-2 apakah masyayikh itu sudah tahu atau belum tahu? Sdh tau.
Continue Reading